Gratis !! Dapatkan update artikel kangtris.com via email. Gabung Sekarang !
Latest Posts

Senin, 19 Juli 2010

Seuntai kejujuran dalam bisnis

Suatu sore, terlihat seorang pemuda datang ke tempat kang Soleh. Dandanannya terlihat sederhana, dengan jean berwarna biru serta berkaos oblong putih. Syahrul nama pemuda itu. Sementara itu, diluar angin semilir mengiringi langkah kaki Syahrul ke tempat kang Soleh.

“Saya hari ini, benar – benar mendapatkan keuntungan yang luar biasa kang.” celoteh Syahrul tiba – tiba, setelah di rumah kang Soleh.

”Alhamdulillah...., berarti ke sini, mau hitung – hitungan berapa zakat dan shodaqoh yang mau dibayar ya ? tanya kang Soleh, dengan sedikit tersenyum.

”Bukan itu ... maksud saya kang ?”

” O... kirain itu, lalu apa ?” tanya kang Soleh.

” Saya sehari – hari, sebagaimana kang Soleh ketahui kan jualan mobil bekas, sudah menjadi rahasia umum dalam jual beli mobil bekas, terkadang kejujuran menjadi hal yang sangat jauh diterapkan dalam bisnis mobil.”

” Ehm......” sergah kang Soleh.

” Sayapun mengakui, kadang – kadang mobil jelek dibilang bagus ke konsumen, demi meyakinkan untuk membeli, apalagi kalau yang beli tidak tahu detil mobil. Bahkan untuk mengakali konsumenpun kilometer disetel mundur.”

”Maksudnya ?” sergah kang Soleh.

” Yaitu kang, umpamanya kilometer sebenarnya sudah seratus ribu, disetel menjadi lima puluh ribu, jadi kan bilang ke konsumen mobil ini baru dipakai lima puluh ribu bukan seratus ribu.” jawab Syahrul.

Kang Solehpun terlihat manggut – manggut, baru mengerti kalau di dunia jual beli mobil bekas namanya kilometer bisa disetel ulang.

”Nah, hari ini saya ketemu orang yang main jual beli mobil bekas, tapi kejujuran diutamakan, dia tidak mau merubah – ubah kilometer mobil yang diperjual belikan. Karena dia tahu konsumen kurang minat membeli mobil yang kilometernya tinggi, iapun memilih membeli mobil yang kilometernya masih rendah, dibanding ia harus memanipulasi kilometer mobil.

Tidak hanya itu kang, perilakunyapun menurut saya lebih soleh dibanding pemain mobil yang lain, prinsip yang ia terapkan ketika menjual mobil tak hanya mencari keuntungan dari jual beli mobil, namun lebih jauh daripada itu, ia berusaha memberikan kenyamanan, kemudahan dilandasi kejujuran kepada konsumen.” Ini sebenarnya maksud saya kang, hari ini saya mendapatkan keuntungan luar biasa, karena saya bertemu orang yang masih mengutamakan kejujuran, padahal dalam lingkungan yang penuh dengan ketidakjujuran.


Mendengar penuturan Syahrul, kang Solehpun terlihat tersenyum lebar, kemudian berkata,

”Alhamdulillah, semoga kamu oleh Allah akan dipertemukan dengan orang – orang yang disayang sama gusti Allah.

Semoga orang yang kamu temui itu, sedang melaksanakan sebagian dari etika bisnis sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bahwa kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Rasulullah sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis, beliau pernah bersabda, “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya”.

Selain itu, orang itu mempunyai kesadaran tentang signifikansi sosial kegiatan bisnis. Pelaku bisnis, tidak hanya sekedar mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, sebagaimana yang diajarkan Bapak ekonomi kapitalis, Adam Smith, tetapi juga berorientasi kepada sikap ta’awun (menolong orang lain) sebagai implikasi sosial kegiatan bisnis. Tegasnya, berbisnis, bukan mencari untung material semata, tetapi didasari kesadaran memberi kemudahan bagi orang lain dengan menjual barang.”

Wallahu a'alam.
read more...

Selasa, 13 Juli 2010

Menuju Hati Yang Khusu'

Manusia yang hatinya paling khusu’, tentunya tidak ada lagi, kecuali hanya Rasulullah saw. Karena Beliau adalah orang yang paling kenal (ma’rifat) dan paling mencintai Allah Ta’ala, sehingga beliau paling yakin terhadap apa-apa yang dijanjikan Allah Ta’ala melalui firman-Nya.

Selanjutnya, baru orang-orang yang telah berhasil mengikuti Beliau dengan baik. Baik ilmu, amal, perjuangan, terutama pelaksanaan akhlak yang mulia (akhlakul karimah). Mereka itu adalah para Keluarga (ahlu baitin nabi), Kerabat, Sahabat dan pengikut pengikut yang setia, kemudian orang-orang yang mengikuti pengikut-pengikut tersebut dengan baik sampai hari kiamat. Sesuai dengan kemampuan mereka mengikuti Baginda Nabi saw., mereka adalah orang yang hatinya paling khusu’ diantara orang - orang yang ada di sekitarnya. Yang demikian itu, karena Rasulullah saw. adalah “Uswatun hasanah”(suri tauladan yang baik). Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.al-Ahzab : 21)

Maksud ayat, untuk mampu menjadikan Rasul Muhammad saw. sebagai suri tauladan yang baik, syaratnya, terlebih dahulu orang tersebut harus mempunyai tiga pilihan hidup. Pertama, “yarjullah”, yaitu orang yang tujuan hidupnya hanya berharap mendapatkan ridho Allah semata, bukan karena ingin masuk surga maupun takut neraka. Kedua, “wal yaumal akhir”, yaitu orang yang orientasi hidupnya hanya mengharapkan kebahagiaan hari akhirat, yaitu ingin masuk surga dan selamat dari neraka. Dan yang ketiga, “wadzakarollaha katsiroh”, yaitu orang yang banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Maka, yang dimaksud orang yang hatinya khusu’ itu adalah orang yang orientasi hidupnya hanya untuk mengabdi kepada Allah Ta’ala, baik semata mengharap ridho Allah Ta’ala maupun kebahagian hidup di surga. Sebabnya, merekalah orang yang hatinya telah yakin, bahwa apapun yang diperbuatnya, baik urusan dunia terlebih urusan akhirat, kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala, baik dengan siksa di neraka maupun dengan kebahagiaan di surga. Allah Ta’ala menegaskan yang demikian itu dengan firman-Nya:

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, - (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS. al-Baqoroh : 45-46).

Yang dimaksud dengan “al-ladziina yadhunnuuna” (orang-orang yang menyangka) adalah orang-orang yang hatinya telah yakin bahwa mereka akan menjumpai Allah Ta’ala. Maksud ayat, orang-orang yang hatinya khusu’ itu adalah orang yang yakin akan menjumpai Allah, baik dengan wushul (interaksi secara ruhaniyah) melalui ibadah yang sedang dilakukannya saat itu, juga dengan pahala amal ibadah itu nantinya di surga.

Kalau tidak demikian, mereka yakin bahwa kelak akan dikembalikan kepada-Nya untuk menerima pahala ibadah dengan surga atau mempertanggung-jawabkan dosanya dengan siksa neraka.

Untuk membaca lebih lengkap silahkan download ebook "Menuju Hati Khusu’" karya Bapak Muhammad Luthfi Ghozali, dengan klik disini.

Untuk Abah, matur nuwun mengijinkan buku ini untuk dishare.
read more...

Kamis, 24 Juni 2010

Dua gelas teh manis

Suatu petang selepas shalat Isya, seseorang datang ke tempat kang Soleh. Pakaiannya rapi, di saku bajunyapun terselip sebuah pulpen parker. Sorot matanya tajam, walau dibalut kaca mata minus. Kedatangannya ke tempat kang Soleh hanya ingin berkonsultasi tentang merasakan manisnya ibadah.

Setelah berbasa – basi, orang itupun mulai bertanya kepada kang Soleh.

”Maaf nih kang, saya sudah bertanya ke beberapa orang tentang suatu hal, yang menurut saya, sulit untuk difahami oleh saya. Penjelasan yang diberikan oleh orang – orang yang saya ajak bicara, hanya bersifat verbal dan sulit difahami oleh akal sehat saya” celoteh orang itu.

”Lo... kalau sampeyan, sudah bertanya ke beberapa orang mengapa masih tanya kepada saya ?” jawab kang Soleh.

”Nah... justru saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan, makanya saya ingin bertanya kepada kang Soleh.”

”Jadi... apa nih, masalah sebenarnya ?”, tanya kang Soleh sambil tersenyum.

”Merasakan manisnya ibadah kang ..... ” celetuk orang itu.

”Lo... itu sudah jelas, tidak sedikit dalil yang menerangkan tentang manisnya ibadah.” jawab kang Soleh.

”Justru itu kang, saya dibuat pusing....... sekarang logikanya begini kang, bagaimana mungkin ibadah kok terasa manis ? kalau maksiat dibilang manis, itu masuk logika kang.” sergah orang itu.


Diam – diam kang Soleh mulai mengetahui arah pembicaraan orang yang ada di depannya. Dari bibirnyapun terdengar lirih lantunan istighfar. Sementara kang Soleh masih terdiam, orang itupun berkata lagi.

”Sekarang begini kang, seumpama saya bekerja di sebuah perusahaan sebagai kepala bagian purchasing, otomatis semua vendor – vendor yang ingin memasukkan barang ke tempat perusahaan saya bekerja, keputusannya ada di tangan saya. Nah, di posisi yang seperti ini kang, bukankah korupsi merupakan hal yang manis ? dan saya pun yakin banyak orang yang mengidam – idamkann posisi seperti yang saya tempati. Kenapa ? karena posisi basah kang, kenapa basah ? ya ... karena banyak sumber uang yang bisa dikorupsi.”

Mendengar ocehan orang itu, kang Solehpun masih terdiam. Melihat diamnya kang Soleh orang itupun kembali melanjutkan bicaranya.

”Terus sekarang kan lagi ramai – ramainya piala dunia kang, sudah menjadi tren khususnya di kota – kota, ada acara nonton bareng piala dunia. Nah... biar lebih jreng ada juga yang pakai taruhan, biar lebih semangat... kalau jagoannya menang, selain senang, masih ada bonusnya kang... yakni dapat uang taruhan, yang begini ... nih... kan manis namanya.”

”Ada juga yang tidak kalah hebohnya kang sekarang, ”video porno mirip artis”, yang ini nih kang... dari bos sampai cleaning service berebut ikutan nonton, apalagi begitu maraknya pemberitaan sehingga memancing rasa keingintahuan khalayak, termasuk anak – anak SD kang ? masak mau dilarang melihat video itu ?”


Sesaat kemudian, orang itu terlihat mengakhiri pembicaraannya. Kang Solehpun masih terdiam termangu – mangu mendengar penuturan orang itu. Dalam lubuh hati yang terdalam kang Soleh berkata, ”orang seperti ini belum tentu terbuka hatinya, bila dijawab langsung dengan menukil ayat – ayat Al Qur’an ataupun Al Hadits, bagi dia hanya jawaban yang masuk logika yang bisa ia terima.”

”Sudah, hanya itu ceritanya ?” mendadak kang Soleh bertanya.

”Ya itu kang, realita yang ada sekarang... yang membuat saya tidak bisa mengerti, dan memahami, ”merasakan manisnya ibadah.” jawab orang itu.


Setelah terdiam sebentar, sesaat kemudian kang Soleh berkata,

” Mau minum kopi atau teh manis, ni ?”

” Teh manis, saja kang..... kalau tidak merepotkan”, jawab orang itu.


Sesaat kemudian, kang Solehpun meminta isterinya membuatkan dua gelas teh manis untuk dirinya dan orang itu. Setelah sama – sama meminum, kang Soleh berkata.

” Teh ini.... rasanya manis ya ? ”

” Ya ... iya lah kang, wong pakai gula... ya jelas manis rasanya.” jawab orang itu.

” Tapi, ada juga lo.... orang yang tidak bisa merasakan manisnya gula ?” balas kang Soleh.

”Ga mungkin kang.... sudah dari sononya gula rasanya manis, mau bodoh, mau pinter, mau pejabat, mau pengemis.... kalau minum pakai campuran gula...jelas rasanya manis.” jawab orang itu.

”Orang yang sedang sakit............” jawab kang Soleh.

Orang itupun tersenyum .... mendengar jawaban kang Soleh. Sesaat kemudian kang Soleh melanjutkan kata – katanya.

”Orang yang sedang sakit, tidak bisa merasakan manisnya gula. Terlepas yang sakit oranga bodoh, orang pinter, pejabat, pengemis, di saat sedang sakit, gula yang sejatinya rasanya manis terasa pahit di lidah orang sakit itu.”

”Rasa pahit yang ia rasakan, bukan karena gula tidak manis rasanya, namun karena ia sedang dalam keadaan sakit...., ia tidak bisa merasakan manisnya gula.... melainkan pahit, walaupun rasa gula yang sesungguhnya rasanya manis.”

”Orang yang sakit, bisa kembali merasakan manisnya rasa gula, ketika ia sudah menjadi sehat. Ia bisa menjadi sehat dikala penyakit – penyakit dalam tubuhnya sudah diobati dengan obat yang sesuai untuk penyakitnya, serta ditangani oleh dokter yang memang ahli mengobati penyakit tersebut.”

”Di saat sakitnya telah sembuh, dan sehatnya telah kembali, maka orang tersebut ketika meminum teh manis... bukan lagi pahit yang ia rasakan seperti rasa saat sakit, melainkan manis yang ia rasakan sebagaimana rasa yang dialami oleh orang – orang sehat lainnya.”


Mendengar penuturan dari kang Soleh, wajah orang itu sedikit kelihatan pucat....diam – diam, ia mulai sedikit memahami pembicaraan kang Soleh. Setelah menghela nafas, untaian kalimat meluncur dari kang Soleh.

Orang yang hatinya mengidap penyakit tidak akan bisa merasakan manisnya ibadah, walaupun dijelaskan dengan penjelasan panjang lebarpun tidak akan bisa menerimanya, sebagaimana orang yang sedang sakit tidak bisa merasakan manisnya gula, walaupun dijelaskan secara ilmiah tentang zat pemanis yang terkandung di dalam gula.”

”Orang bisa merasakan manisnya ibadah, dikala penyakit – penyakit di hatinya telah terobati, serta ditangani oleh guru pembimbing yang sempurna sebagaimana ditangani oleh dokter – dokter ahli”

”Begitu mutlaknya guru pembimbing, karena hanya dengan bimbingannyalah kita mengetahui jenis – jenis penyakit yang ada dalam hati kita, sebagaimana seorang dokter lebih mengetahui jenis penyakit yang diderita oleh tubuh kita, dibanding diri kita sendiri yang penuh kebodohan.”

”Orang – orang yang sakit hatinya, walaupun sedang beribadah di hamparan permadani Rabbani dan berhadapan secara langsung secara hakiki dengan Allah SWT, tidak bisa merasakan manisnya sebuah ibadah, padahal Allah sudah sangat dekat dan bahkan lebih dekat dari urat lehernya sendiri.”


Wallahu’alam.
read more...

Sabtu, 17 April 2010

Membuat do'a anak tertolak

Melihat maraknya pemberitaan tentang makelar kasus di televisi yang ujung – ujungnya tentang korupsi dan penggunaan uang haram lainnya, kang Soleh berkata kepada rekannya dalam sebuah obrolan petang sehabis shalat isya.

“Kasihan ya anak – anak markus itu ?” celoteh kang Soleh.

“Lo kok, kasihan anak-anaknya kang ? Justru mereka berbuat seperti itu untuk membahagiakan isteri dan anak – anak mereka.” Jawab rekannya.

“Nah itu masalahnya. Mereka menganggap berbuat kebaikan untuk isteri dan anaknya padahal justru kebalikannya yang terjadi.” Jawab kang Soleh.

“Begini kang, mereka berbuat itu kan bisa bertobat ? dan di sisi lain mereka punya bekal untuk anak – anak mereka dalam beribadah dengan uang yang begitu banyak.”

Orang itu mulai menyela.

Mendengar orang itu menyela, kang Soleh melanjutkan pembicaraan.

“Syekh ‘Athiyah pernah berkomentar “orang tua semacam itu secara sengaja membuat ibadah dan doa anak – anaknya tertolak. Sebab ia menjadikan tubuh mereka tumbuh dari harta yang haram”. Rasulullah SAW juga pernah mengingatkan, “Demi zat yang menguasai diriku, jika seseorang mengonsumsi harta yang haram, maka tidak akan diterima amal ibadahnya selama 40 hari”.

Mendengar uraian kang Soleh, orang itupun terdiam. Iapun diam – diam mulai menghitung dan bertanya kepada dirinya sendiri, sebenarnya ia telah menumbuhkan daging haram dalam tubuh anak dan isterinya atau daging halal ?.

Wallahu a’lam.

read more...

Mengapa hati menghitam ?

“Akhir – akhir ini mengapa saya berat beribadah ya kang ?” tanya seseorang kepada kang Soleh.

“ Rasa berat dalam beribadahmu itu karena perbuatan dosa.” Jawab kang Soleh pendek.

“Lo kok bisa kang ?, saya merasa nggak melakukan perbuatan maksiat kok, biasa – biasa saja.” tanya orang itu.

“Justru karena kamu merasa seperti itu, itu salah satu tanda kamu tidak rendah hati. Orang yang tidak rendah hati, biasanya kurang bisa mengevaluasi diri sendiri. “ celoteh kang Soleh.

Mendengar uraian kang Soleh, orang itupun sedikit mengernyutkan dahinya, dalam hatinya berbisik, “masa sih ?”.

Sesaat kemudian, kang Soleh berkata,

“Perbuatan dosa menyebabkan hitamnya hati. Tanda hitamnya seseorang adalah tidak takut dan terkejut mengerjakan perbuatan dosa, serta tidak merasakan manisnya mengerjakan taat, dan kebal nasihat.

Kahmas bin Hasan pernah berkata, “Aku pernah melakukan perbuatan satu dosa, lalu menyesal dan menangis selama empat puluh tahun. “ Orang bertanya, “Apakah dosa itu ya Abu Kahmas?” Jawabnya, “Pada suatu hari aku kedatangan seorang tamu, lalu aku membeli ikan goreng untuk menjamunya. Setelah tamu itu selesai makan, untuk membersihkan aku ambilkan segumpal tanah milik tetanggaku tanpa seizing empunya.”


Mendengar kisah kang Soleh, orang itupun mulai tertunduk.

“Masih merasa nggak punya dosa ?” tanya kang Soleh.

“Bukan nggak punya dosa kang, saya nggak bisa melihat dosa – dosa saya.” Jawabnya trenyuh.

“Itulah mengapa hati bisa menghitam.” Jawab kang Soleh.

Wallahu a’lam.

read more...

Selasa, 30 Maret 2010

Indahnya Memaafkan

Selepas sholat isya, terlihat seseorang di ruang tamu kang Ilyas. Raut muka yang kusut dan sedikit memerah tak bisa ia sembunyikan.

“Sudah tiga hari ini, saya susah sekali tidur kang ? ” keluh orang itu.

” Dikejar – kejar tagihan kartu kredit ya ?” sergah kang Ilyas sambil tersenyum.

” Bukan kang..... bukan. Saya sedang sakit hati.”

” Sampeyan kayak anak muda yang sedang jatuh cinta, pakai sakit hati segala....” celetuk kang Ilyas.

” Karyawan saya, yang saya percaya hampir – hampir 100 %, ternyata menyalahgunakan kepercayaan saya.”

” Maksudnya ?” tanya kang Ilyas.

” Ia pakai uang perusahaan sepuluh juta untuk keperluan kuliah anaknya. ”

” Jadi, gara – gara sepuluh juta, sampeyan susah tidur begitu ?” tanya kang Ilyas.

” Bukan sepuluh juta kang yang bikin sakit hati, tapi merasa dikhianati oleh anak buah yang saya percaya betul... itu yang lebih mahal. ” jawab orang itu.

” Jadi, sampeyan kepingin ga sakit hati biar tidur tidak susah, begitu ?” tanya kang Ilyas.

” Iya. ”

” Gampang, maafkan saja anak buah sampeyan...setelah sampeyan bisa memaafkan, suruh anak buah sampeyan bayar uang yang telah ia pakai.” jawab kang Ilyas..

” Lho kok, memaafkan dulu.... bukan suruh anak buah saya, bayar dulu ? tanya orang itu.
” Dengan memaafkan, kesehatan bisa lebih baik. Para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress (tekanan jiwa), susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.”

Mendengar uraian kang Ilyas, orang itupun terdiam. Sesaat kemudian kang Ilyas terlihat berkata,
” Suat saat ketika Rasulullah saw sedang duduk – duduk bersama sahabatnya, Rasulullah saw bersabda, “Sebentar lagi, salah satu ahli surga akan muncul di hadapan kalian.” Tak lama, seorang laki-laki dari kaum Anshar muncul dengan sisa air wudhu masih menetes dari janggutnya. Ia menenteng terompah di tangan kirinya.

Hari berikutnya, Rasulullah mengulang perkataannya dan orang itu kembali melintas seperti pada kali pertama. Di hari ketiga, Rasulullah mengulang perkataannya, dan kejadian itu kembali terulang.

Mendengar ucapan Rasulullah, Abdullah bin Amr mengikuti lelaki yang dimaksud Rasulullah lalu berkata kepadanya, “Aku bertengkar dengan ayahku, aku tidak akan menemuinya tiga hari, apakah engkau berkenan memberiku tempat menginap?” lelaki itu menjawab, “Silahkan, dengan senang hati.”

Abdullah bin Amr pun menginap di rumah lelaki itu hingga tiga malam berlalu dan Abdullah belum melihat dari laki-laki itu melakukan amal yang disebut sebagai penghuni surga. Sehingga Abdullah memberanikan diri bertanya, “Sudah tiga hari disini, aku tidak melihatmu mengerjakan amal yang membanggakan. Mengapa Rasul menyebutmu sebagai salah satu calon penghuni surga?”.

Lelaki itu menjawab, “Aku memang tidak melakukan amalan-amalan yang istimewa, tetapi sebelum tidur, aku mengingat kesalahan-kesalahan saudaraku seiman, lalu aku berusaha untuk memaafkannya. Aku hilangkan rasa dengki dan iri terhadap karunia Allah yang diberikan kepada saudaraku.”

Setelah mendengar itu, Abdullah berkata, “Ya, itulah yang menyebabkan engkau disebut sebagai calon penghuni surga.”

Mendengar kisah dari Kang Ilyas, orang itupun terlihat mengambil nafas dalam – dalam.

Wallahu a’lam.

read more...

Rabu, 17 Februari 2010

Setiap langkah syukur, terdapat kedamaian

Dalam sebuah perjalanan ke luar kota, terdengar obrolan di dalam kendaraan yang ditumpanginya. Sebut saja yang satu kang Badrun dan yang lain kang Parto.

“Capek sekali pakai mobil ini ya… udah AC ga double, joknya sempit lagi.” Celoteh kang Badrun.

“namanya juga Avanza E to kang…., kalo pengin yang agak halus, suspensi enak ya minimal Innova gitu…..syukuri saja apa yang ada.” jawab kang Parto.

Perjalananpun terus berlanjut, kang Badrunpun terus menerus menggerutu dan mencela sampai – sampai waktu berjalan seolah begitu lama, sementara kang Parto malahan asyik mendengarkan siaran radio, sambil berdendang kecil.

Di sebuah jalan yang lurus dan lengang, tiba – tiba sebuah truk dari belakang menyalip kendaraan yang ditumpanginya.

“Tet….tet…..” suara klakson truk memberi aba – aba, mobil avanza yang ditumpanginyapun memberi kesempatan kepada truk itu untuk melintas mendahului. Namun belum hilang kaget dari suara klakson, ternyata ada yang membuat lebih terkaget – kaget lagi. Di atas truk bukannya, muatan sembako atau hewan sapi yang sering terlihat, namun…..ibu - ibu yang pulang dari pengajian di sebuah kampung, sedang mendendangkan beberapa sholawat.

Raut wajah ibu – ibupun tidak menampakkan rasa khawatir, padahal angin besar menerpa sebagian tubuhnya, ancaman masuk angin dan bisingnya suara truk seolah ia tidak dengarkan. Yang terlihat malahan, berdendang ria menikmati sholawatan.

“Guebleg……” celetuk kang Badrun.

“ yang gebleg apanya to ?”

“Yaitu ibu – ibu, masa bisa – bisanya nyanyi diatas truk ?”

“Apa ga gebleg sampean kang ?, mereka yang ga pakai AC, tempat dudukpun ga ada, masih bisa mendendangkan sholawat….la kok sampean yang pakai AC, ada tempat duduk empuk, kok mendendangkan gerutuan, berasyik ria dengan keluh kesah ?” Tanya kang Parto.

Mendengar celotehan kang Parto, muka kang Badrunpun terlihat pucat… tiba-tiba terlihat mau marah, namun sesaat kemudian terlihat menahannya, hingga akhirnya iapun tertunduk malu.

Wallahu a’lam.

read more...