Indahnya buah kesabaran

Di suatu pagi pagi seseorang yang muda usia kelihatan datang tergopoh – gopoh ke sebuah rumah di Dusun Limbangan namanya. Dusun Limbangan kebetulan masuk wilayah Desa Kutawis, sebuah dusun yang terletak di sebelah timur perbatasan antara wilayah Purbalingga dengan Banjarnegara.

Dusun itu termasuk dusun yang terlihat sudah maju pertaniannya, di kanan kiri jalan terlihat berbagai tanaman hijau menghias di pelupuk mata. Desiran angin pagi seolah mengiringi kesejukan suasana yang terpancar di dusun itu.

“Assalamualaikum ….” terdengar sebuah salam dari pemuda itu. ”Wa’alaikum salam…”, terdengar jawaban ustadz Ahmad dari dalam rumah. Ya .. rupanya pemuda itu datang ke bersilaturahim ke tempat ustadz Ahmad. Setahu saya ustadz Ahmad merupakan salah seorang yang cukup gigih mengembangkan kehidupan beragama di dusun tersebut. Setelah sekian lama menimba ilmu di beberapa pesantren, iapun kembali ke kampungya dengan tujuan menyiarkan agama Islam. Saya ingat betul saat itu, dusun tersebut masih banyak yang enggan sholat. Bahkan ada yang sholat hanya setahun dua kali saja, yakni sholat I’dul Fitri dan I’dul Adha. Namun keadaan sekarang jauh berubah.

Setelah kedatangan ustadz Ahmad, setiap sore banyak anak – anak kecil yang belajar mengaji ke masjid tempat ustadz Ahmad mengajar. Kalau dulu orang – orang hanya berbondong – bondong sholat pada saat sholat I’dul Fitri dan I’dul Adha saja, sekarang setiap sholat jum’at, masjid – masjid di dusun itu kelihatan ramai. Tidak hanya itu hampir setiap bulan diadakan pengajian yang melibatkan warga, dan saat – saat tertentu mengadakan Pengajian Akbar dengan mengundang penceramah dari luar daerah.

Setelah ngobrol ngalor – ngidul, akhirnya pemuda itu mulai mengutarakan maksud kedatangannya ke ustadz Ahmad. “Begini ustadz, saya sudah beristeri lebih dari lima tahun, pada awalnya rumah tangga saya berjalan dengan tenang dan membahagiakan, karena kebetulan isteri saya ini saya nikahi atas dasar saling mencintai.” ungkap si pemuda kepada ustadz Ahmad.

“Namun, akhir – akhir ini kebahagiaan yang dulu saya rasakan mulai hilang dari keluarga kami. Isteri saya mulai menampakkan sifat aslinya yang pemarah, materialistis, dan super cerewet. Semua tindakan saya selalu dikomentari. Semua itu saya coba jalani dengan sabar dan mengalah. Namun beberapa hari ini, yang membuat saya hamper-hampir tidak kuat adalah isteri saya mulai menjelek-jelekan saya di muka umum. Ia mulai menceritakan segala kelemahan saya di depan teman – temannya.” Si pemuda mulai berkeluh kesah kepada ustadz Ahmad.

“Kalo begini terus menerus…apa saya kuat ustadz ? apa yang sebaiknya harus saya lakukan ?” tanya si pemuda. Mendengar keluhan si pemuda itu, rupanya ustadz Ahmad tidak langsung menanggapinya. Sesaat kemudian terlihat ustadz Ahmad mempersilahkan si pemuda itu untuk minum dan menikmati hidangan ubi goreng yang sudah tersedia di mejanya.

Setelah menghela nafas sesaat, ustadz Ahmad mulai bercerita kepada si pemuda itu.

Tersebutlah ada dua lelaki yang berkawan akrab. Mereka adalah Hasan dan Ismail. Keduanya orang shalih yang taat beribadah. Karena tempat mereka berjauhan, tidak mungkin keduanya selalu bertemu. Namun ada kebiasaan di antara mereka, setiap setahun sekali Hasan selalu datang ke rumah Ismail.

Suatu hari Hasan berkunjung ke rumah sahabatnya itu. Tiba di rumah Ismail, ia mendapatkan pintu rumah temannya itu tertutup rapat. Setelah beberapa kali mengetuk pintu terdengar sahutan istri sahabatnya dari dalam rumah, “Siapakah kamu yang mengetuk-ngetuk pintu?”

Kemudian Hasan menjawab, “Saya Hasan, sahabat suamimu. Aku datang untuk mengunjunginya hanya karena Allah SWT.”

“Dia sedang pergi mencari kayu bakar. Mudah-mudahan saja ia tidak kembali lagi!” jawab istri Ismail sambil memaki dan mencela suaminya sendiri.

Mendengar jawaban seperti itu, Hasan keheranan. Belum hilang keheranannya, tiba-tiba muncul Ismail. Ia datang sambil menuntun seekor harimau yang di punggungnya terdapat seikat kayu bakar. Begitu melihat Hasan, Ismail langsung menghambur mendekat sambil mengucapkan salam kehangatan.

Setelah menurunkan kayu bakar dari punggung harimau, Hasan berkata kepada harimau itu, “Sekarang pergilah, mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu!”

Ismail mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah. Sementara mereka bercakap-cakap, istri Ismail masih terus bergumam memaki-maki suaminya. Ismail diam saja.

Hasan keheranan bercampur takjub melihat kesabaran sahabatnya itu meskipun istrinya terus memaki, ia tetap tidak memperlihatkan muka kebencian. Hasan pulang menyimpan rasa kagum terhadap Ismail yang sanggup menekan rasa marahnya menghadapi istrinya yang begitu cerewet dan berlidah panjang.

Satu tahun berlalu. Seperti kebiasaannya, Hasan kembali mengunjungi sahabatnya, Ismail. Ketika mengetuk pintu rumah Ismail, dari dalam terdengar langkah-langkah kaki. Beberapa saat kemudian terlihatlah istri sahabatnya yang dengan senyum ramah menyapanya, “Tuan ini siapa?”

“Aku sahabat suamimu. Kedatanganku semata untuk mengunjunginya karena Allah,” jawab Hasan.

Istri Ismail menyapa ramah, lalu mempersilakan tamunya duduk menunggu suaminya. Tak lama kemudian Ismail datang membawa seikat besar kayu bakar di atas pundaknya. Dua sahabat itu pun segera terlibat perbincangan serius. Hasan menanyakan beberapa hal yang membuatnya keheranan. Tentang keadaan istrinya yang sangat jauh berbeda dibanding setahun yang lalu. Ia juga menanyakan bagaimana Ismail mampu menaklukkan seekor harimau sehingga binatang buas itu mau memanggul kayu bakarnya. Mengapa ia sekarang tidak bersama-sama dengan binatang itu lagi ?

Ismail segera menjelaskan, “Ketahuilah sahabatku. Istriku yang dulu meninggal setelah sekian lama aku berusaha bersabar menghadapi perangai buruknya. Atas kesabaran itulah, Allah SWT memberi kemudahan bagiku untuk menundukkan seekor harimau seperti yang engkau lihat. Allah juga memberiku karunia berupa istri shalihah seperti yang engkau lihat sekarang. “Aku gembira mendapatkannya, maka harimau itu pun dijauhkan dariku. Aku memanggul sendiri kayu bakar.”
Setelah mendengar cerita itu dari ustadz Ahmad, pemuda itu bertanya, ” Jadi kalau saya terus bersabar saya bisa menundukkan harimau ?. ”He..he...bukan itu maksud saya...” celoteh ustadz Ahmad sambil terkekeh – kekeh.

”Ketahuilah setiap kesabaran yang kita lakukan pasti akan ada buahnya, setiap kesabaran yang kita jalankan dengan ikhlas, limpahan hikmah akan tercurah kepada kita. Namun hanya orang – orang yang memiliki kebeningan jiwa yang bisa menerima cahaya hikmah itu. Mulailah buka ruang hatimu.” kata sang ustadz.

”Sebelum kamu bertanya, ”kuatkah aku mendapat perlakuan isteri seperti ini ?”, akan lebih baik, tanyakan kepada dirimu, ”seberapa baikkah perlakuanmu terhadap Allah”, bisa jadi perangai isterimu itu, cara Allah untuk menumbuhkembangkan ”jiwa kesabaranmu”. Perangi isterimu yang dari kacamata umum sangat memalukan, bisa jadi Allah sedang mempersiapkan jiwamu, karena akan memberimu sebuah anugerah yang begitu agung, sehingga kebesaran jiwamu harus disiapkan.” begitu untaian indah ustadz Ahmad mulai mengalir.

”Jadi yang harus saya lakukan apa ustadz ?” sergah si pemuda dengan lirih. Ustadz Ahmadpu kembali berkata, ” Lebih dekatkanlah dirimu kepada Allah... jika kemarin sholatmu bolong – bolong, berjanjilah dan lakukanlah mulai sekarang tidak bolong – blong lagi. Cobalah bangun di tengah malam, memohon dengan hati yang khusyuk minta petunjuk supaya diberi jalan yang terbaik.”

”Mulailah menghargai atas apa yang dilakukan isterimu, dengan pujian, karena kebanyakan suami tidak bisa menghargai kerja keras isteri walaupun mereka sudah bekerja 24 jam.” Untaian ustadz Ahmad terus mengalir.

Perlahan – lahan si pemuda itu, mulai menunduk dan trenyuh hatinya. Iapun mulai terbuka hatinya tentang apa yang selama ini tidak dilakukan. Selain sholatnya yang bolong – bolong, iapun jarang menghargai kerja keras isterinya, karena merasa sudah jengkel dengan perilakunya. Padahal, bisa saja isterinya berbuat itu karena merasa tidak dihargai oleh istrinya.

Setelah lama duduk termenung, si pemuda itupun pamitan untuk pulang dengan segudang cahaya pemahaman yang telah ia dapatkan.

Wallahu a’lam.

Baca Selengkapnya ..

Membuka ruang hati

Suatu hari seorang teman datang ke tempat saya. Setahu saya, ia memang masih muda namun telah memiliki beberapa usaha yang boleh dibilang cukup mapan. Bisnis yang ia jalankan terlihat cepat berkembang. Dengan dukungan modal yang cukup kuat, fokus dan memiliki networking yang luas, membuat pertumbuhannya kian cepat. Selain itu, ia dikenal cukup luwes dalam bergaul, serta memiliki kelihaian dalam meloby partner bisnisnya.

Hari itu kebetulan hari sabtu, dan seperti biasanya jika hari sabtu dan minggu saya dan keluarga lebih banyak menikmati waktu untuk acara keluarga dengan santai. Setelah ngobrol ngalor ngidul, teman saya inipun mulai bercerita tentang kesuksesan bisnis yang sedang ia jalani. Sayapun hanya mendengarkan dan mengangguk – angguk saja pada saat itu, namun setelah agak lama ia mulai sedikit berbicara dengan intonasi yang berbeda. Kalau tadi sewaktu cerita bisnis ia begitu berapi-api, sekarang jauh dari itu.

”Saya kemarin sempat tidak mau makan 3 hari”, katanya lirih dan sendu. ”hem, hebat banget ...., memangnya lagi belajar debus..he..he...” sela saya. Namun ia tidak tergelitik dengan selaan saya, ia terus bercerita. ” Bukan hanya itu, sayapun nggak sholat, males banget rasanya...rasanya putus semua harapan ...” begitu ia berceloteh. ”Nah ini gawat.....”kata saya. ”Saya sudah bertahun-tahun pacaran, dan saya serius untuk berumah tangga, tapi ujung-ujungnya setelah sekian lama sekarang putus..... karena orang tuanya tidak setuju...padahal saya sudah terlanjur cinta, sayapun sudah memberikan ia uang bulanan padanya.” katanya kepada saya. ”O...begitu...” kata saya sambil manggut-manggut.

Ketika malam sudah tiba, ia saya ajak makan malam di sebuah rumah makan. Kebetulan pada saat itu ada pertunjukan live music, dan memang saya sengaja bawa ia ke tempat ini supaya agak fresh fikir saya. Sesaat saya lihat iapun ikut lirih bernyanyi terlarut dalam alunan lagu yang sedang mengalun di rumah makan itu. Saya berkata dalam hati, ”hem...sedikit bisa melupakan.”.

Setelah selesai makan malam, kemudian ia saya ajak ke sebuah tempat belanja, Bandung Indah Plaza atau orang – orang sering menyebut BIP. Sudah menjadi rahasia umum, di BIP banyak terlihat cewek – cewek cantik yang sedang berbelanja, atau hanya jalan – jalan saja. Setelah masuk ke BIP, ternyata ga salah yang saya duga, ia berkata, ”bandung emang edun ei...” begitu bisiknya ke saya. Malam itupun berakhir di BIP, kemudian pulang, karena malam sudah semakin larut.

Minggu pagi, setelah jalan – jalan pagi, saya berkata kepadanya, ”mau nggak saya ajak yang lebih edun dibanding yang tadi malam ?”. ”Ayo....”, katanya kepada saya. Kebetulan hari minggu itu saya memang ada jadwal mengikuti sebuah pengajian, dan saya fikir, teman saya ini saya ajak ke pengajian dengan harapan ”pencerahan yang sebenarnya” bisa ia dapatkan.

Ketika sampai di masjid, ia berkata kepada saya, ”mana yang lebih edun ?”. Saya berkata, ”Lha...ini nanti di dalam masjid.”, kata saya. Setelah berkata itu, iapun ikut masuk ke dalam masjid tempat pengajian. Ketika sudah masuk, keliatanya ia sudah mulai mengerti maksud yang sebenarnya dari saya. Kebetulan pada saat itu pengajian membahas tentang indahnya memahami sebuah kegagalan, sebuah kajian kitab Al Hikam karya monumental dari Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary.

Setelah selesai pengajian, dari masjid sampai ke tempat tinggal saya ia diam seribu bahasa. Iapun tidak memprotes saya, karena ”kok yang lebih edun, kayak gini” misalnya.

Setelah hari berganti sore, ia mendekati saya dan mulai berkata, ” setelah saya renungkan memang betul, pengajian tadi lebih edun dari apa yang saya lihat semalam. Kalau tadi malam saya bisa sejenak melupakan masalah saya dengan alunan musik yang indah... dengan melihat cewek-cewek yang cantik....semua itu ternyata hanya sementara...., namun yang jauh lebih bisa menyembuhkan adalah...membuka pintu hati saya, untuk bisa memahami keindahan dibalik sesuatu yang dilihat dari kacamata lahir sebuah kegagalan. Kegagalan ini bisa jadi bentuk kasih sayang Allah kepada saya, supaya saya lebih tekun lagi beribadah....”

Begitu kata-kata terakhir yang ia ucapkan kepada saya hari itu. Sayapun hanya berkata kecil dan lirih,”alhamdulillah, Allah telah menganugerahkan sebuah cahaya pemahaman yang benar dan lurus dari problem yang sedang ia hadapi”.

Wallahu’alam.

Baca Selengkapnya ..

Mengembalikan file yang hilang

| 0 komentar

Terkadang tanpa sengaja data yang kita simpan di dalam computer bisa hilang, entah karena salah klik didelete, ataupun karena adanya serangan virus yang masuk ke computer kita.

Dulu beberapa tahun yang lalu, banyak tersedia jasa penyelamatan data yang hilang. Namun sekarang kita bisa melakukan penyelamatan data tersebut sendiri. Caranya ? Dengan menggunakan software recovery. Salah satu software recovery adalah Recuva.

Dengan menggunakan recuva kita bisa menentukan jenis file apa saja yang ingin kita recover, kemudian tentukan tempat dimana file hasil recover tersebut akan kita simpan. Kemudian software ini akan bekerja me-recover file yang ada di computer kita.

Untuk membaca lebih detil lebih lengkap tentang software ini silahkan klik disini. Software ini gratis dan legal.

Untuk mendownload silahkan klik disini.

Semoga bermanfaat.

Baca Selengkapnya ..

Piriform Defraggler

| 0 komentar

Selain menggunakan ccleaner untuk mengoptimalkan kinerja kompter kita, jangan lupa juga kita menggunakan Defraggler untuk mendefrag komputer kita, sehingga komputer bisa berjalan lebih optimal.

Mengapa menggunakan Piriform Defraggler, padahal di windows juga ada fasilitas defrag ? Kalau saya, biasanya menggunakan software ini lebih mudah, selain itu kadang – kadang defrag dari windows tidak bisa mendeteksi lebih sempurna. Pengalaman saya, terkadang menggunakan defrag dari windows tidak selesai secara utuh. Sehingga software ini jadi alternatif untuk mendefrag.

Software ini menyajikan detail proses defrag,sehingga kita bisa memonitornya. Software ini gratis dan legal.

Untuk mempelajari lebih detil tentang software ini, silahkan klik disini untuk user guidenya.

Untuk mendownload silahkan klik logo berikut.

CCleaner - Freeware Windows Optimization

Baca Selengkapnya ..

Piriform CCleaner

| 0 komentar

Seringkali laptop atau PC yang kita gunakan kinerjanya tidak maksimal atau speednya melambat. Ada beberapa alternatif supaya kinerja computer kita lebih cepat lagi dibanding sebelumnya, diantaranya dengan menggunakan Piriform CCleaner.

Dengan Piriform CCleaner kita bisa membersihkan temporary files, cookies, last download location dan sebagainya. Selain itu software ini juga memperbaiki registry di dalam komputer kita.

Ada juga fasilitas uninstal untuk program – program yang ada di komputer kita, sehingga program – program yang jarang kita pakai, lebih baik di uninstall supaya speed komputer lebih baik.

Software ini gratis dan legal.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang software ini silahkan klik disini.

Untuk mendownload silahkan klik disini.

Baca Selengkapnya ..

Andaikata Lebih Panjang Lagi

| 4 komentar

Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu. Kemudian Rosulullah berkata, "tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?" Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal"

"Apa yang di katakannya?"
"Saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong."

"Bagaimana bunyinya?" desak Rosulullah.
Istri yang setia itu menjawab,"suami saya mengatakan "Andaikata lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru....andaikata semuanya...." hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?"

Rosulullah tersenyum."sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujarnya. Kisahnya begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum'at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata "andaikan lebih panjang lagi".Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.

Ucapan lainnya ya Rosulullah?"tanya sang istri mulai tertarik.
Nabi menjawab,"adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Coba andaikan yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi".Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?" tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan,"ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ”kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.”

Memang begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga akan menimpa kita sendiri.Karena itu Allah mengingatkan: "kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Danjika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula."(surat Al Isra':7)


Sumber : Kisah Islam

Baca Selengkapnya ..

Antara Hambatan dan Anugerah

| 0 komentar

Pemberian dari makhluk itu bisa merupakan penghalang, sedangkan halangan dari Allah itu adalah anugerah.

Kenapa demikian? Karena halangan dari Allah justru mendorong seseorang untuk kembali cepat menuju kepadaNya dan terus mengabadikan diri di hadapanNya, disamping memberikan peluang ikhtiar bagi diri anda. Karena mana mungkin Dia menghalangimu, sedangkan Dia tidak pernah pelit, tidak butuh apa-apa, dan selalu Ada? Bahwa Dia menghalangimu semata karena kasih sayang-Nya kepadamu.

Karena pemberian dari-Nya itulah pemberian yang sesungguhnya dan terhalangnya keinginanmu itulah kenyataan dari anugerah pemberian-Nya. Pandangan ini hanya bisa dimengerti oleh orang yang memahamiNya.


Tidak ada yang memahami kecuali orang yang benar hatinya. Syeikh Muhyiddin Ibnu Araby mengatakan, "Apabila Allah menghalangimu, maka itulah pemberian-Nya. Dan manakala Allah memberi sesuatu padamu, maka itulah halangan-Nya. Maka pilihlah untuk tidak mengambil."

Maksudnya jika pemberian itu justru menghalangimu dari Allah maka itu bukan pemberian yang hakiki, karena itu harus dihindari.

Sedangkan kata-kata Ibnu Athaillah, bahwa pemberian dari makhluk itu dinilai sebagai penghalang, menurut Syeikh Zarruq karena tiga alasan :

Pertama, terjadinya ketergantungan dengan makhluk. Seorang bijak berkata, "Sabar terhadap ketiadaan itu lebih mudah ketimbang orang yang tergantung dengan anugerah orang."

Kedua, lebih berpihak kepada makhluk dan merasa senang dengan pemberian makhluk (bukan pemberian Allah). Manakala seseorang mulai bergantung pada makhluk, itulah awal dari bencana penjauhan dirimu dengan Allah Ta'ala. Na'udzubillah.

Ketiga, lebih banyak bersibuk ria dengan mereka dengan asumsi adanya rasa selamat manakala bergantung dengan mereka. Si bijak berkata, "Harga diri yang bersih itu lebih utama ketimbang kesenangan yang berbuntut dibaliknya."

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily menegaskan, "Hendaknya lari dari kebaikan sesama itu lebih anda utamakan dibanding lari dari keburukan mereka. Sebab kebaikan mereka itu bisa menimpa hatimu, sementara keburukan mereka hanya menimpa badanmu. Musuh yang bisa mengembalikan dirimu kepada Allah itu lebih baik ketimbang sahabat yang menghalangimu menuju Allah Ta'ala."

Sayyidina Ali Karmomallahu Wajhah mengatakan, "Jangan jadikan seorang pemberi nikmat antara dirimu dengan Allah, sebab jika engkau mengukur nikmat selain dari Allah berarti engkau terpuruk."

Sumber : www.sufinews.com

Baca Selengkapnya ..